fbpx

TALKSHOW : SEMBAKO MURAH, LEBARAN MERIAH

Masalah kenaikan harga sembako menjelang lebaran selalu terulang setiap tahunnya, hal tersebut menjadi masalah pemerintah yang dari tahun ke tahun belum dapat terselesaikan. Hal tersebut mendorong diadakannya diskusi Sembako Murah Lebaran Nikmat di Fakultas Ekonomi Unissula, Selasa (07/06).

Dalam diskusi tersebut, membahas tentang terjaminnya distribusi sembako kepada pihak yang sangat membutuhkan. Bedjo Santoso mengatakan, “persoalan kenaikan harga sembako sangat dirasakan masyarakat. Operasi pasar hanya terapi kejut dan belum menyentuh akar masalah. Sehingga beliau menuturkan ada 3 cara yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah tahunan ini, yaitu : adanya stock pengaman yang mencukupi, adanya manajemen stock yang baik, dan semangat dari pihak pemerintah”.

Sebenarnya untuk menjangkau kepada semua lapisan masyarakat memang tidak mudah, namun untuk mengatasinya harus ada prioritas kepada kelompok miskin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara setiap warga yang kurang mampu harus diberikan tanda khusus pada E-KTP yang sudah dibuat oleh pemerintah, kemudian dengan E-KTP tersebut dapat digunakan oleh kelompok miskin untuk mendapatkan subsidi sembako dengan jumlah tertentu dan di tempet – tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah, sehingga tidak perlu untuk mengantri dan berdesak – desakkan seperti yang telah terjadi selama ini. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari crowded antrian.

Langkah – langkah dalam mewujudkan situasi tersebut dapat dimulai dari daerah yang paling miskin, seperti daerah pinggiran sungai, daerah yang dekat dengan perlintasan kereta api, maupun daerah dengan kepadatan penduduk. Kemudian pemerintah dapat mengadakan operasi pasar, dimana pemerintah tidak turun tangan sendiri dalam membuat pasar tiban dalam jangka waktu panjang, namun pemerintah harus membuat jaringan dengan persatuan pedagang pasar malam yang telah mempunyai ijin, selanjutnya pihak pedagang berhak untuk memberi harga pada dagangannya dengan factory outlet (harga pabrik), sedangkan untuk sembako yang dijual oleh pihak pedagang dapat diambil dari mitra bulog, seperti PT. Rajawali, dll. Jadi penjual tidak perlu mengambil dari distributor ke distributor lainnya dimana hal tersebut dapat menyebabkan adanya kenaikan harga, tetapi penjual dapat langsung mengambil dari tempat yang telah ditentukan pemerintah dan telah disalurkan sembako dari pihak yang menjadi mitra bulog, dll.

Jika selama ini banyak penerima subsidi sembako yang dapat dikatakan salah sasaran, maka untuk mewujudkan model operasi pasar dengan tangan kedua (pedagang pasar malam yang berijin), pemerintah harus berfokus kepada daerah dengan pemukiman yang padat, dimana pemukiman tersebut banyak kelompok miskin. Kemudian adanya pencatatan / pendataan jumlah penduduk yang masuk Jawa Tengah maupun jumlah orang yang sekedar transit untuk menjamin kecukupan sembako. Disamping itu pemerintah harus mulai mengedukasi masyarakat secara terstruktur dalam hal edukasi masyarakat di bulan ramadhan tanpa adanya ledakan permintaan, karena puasa hakikatnya adalah menahan dan lebaran hakikatnya adalah gebyar spiritual, bukan materi.

Bedjo Santoso, selaku dosen Fakultas Ekonomi berharap jika rencana ini dapat diterapkan di Indonesia dan dapat berjalan lancar, maka demand / permintaan bisa ditekan.

Leave a Reply

Tour FE UNISSULA

Berita FE

Mahasiswa FEB UNISSULA Lolos Seleksi KKN Internasional di Malaysia
April 30, 2026
📢 Press Release: Pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Genap 2025/2026
April 28, 2026
Sertifikasi BNSP
📢 Pengumuman Pelatihan & Sertifikasi MSDM (Supervisor) Batch 5
April 28, 2026

Subscribe

Become A Donor

Department Contact Info

Office Of Development

Jl. Raya Kaligawe Km.4, Kota Semarang
Jawa Tengah, 50112

(024)6583584
0857-2647-3065

fe@unissula.ac.id

 

Social Info

Company Profile Economic Faculty