fbpx

Dosen Unissula Dalami Nilai Sustainability melalui Kunjungan Akademik ke Selandia Baru

Semarang – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Dr. Pungky Lela Saputri, S.ST., M.E., AWPS., CSFT., CSBMA., menjadi bagian dari tim penerima hibah MORA The Air Fund yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui hibah yang diketuai oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud, MA., Ph.D. (Guru Besar UIN Walisongo sejak 2003 dan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2014 – 2020), dilaksanakan kunjungan akademik ke New Zealand pada 19–25 Oktober 2025 untuk mendalami terkait sustainability.

Kunjungan tersebut mencakup kegiatan akademik di University of Auckland serta pembelajaran langsung bersama Suku Māori untuk memahami nilai-nilai budaya, hubungan manusia dengan alam, dan praktik keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat. Rangkaian kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran gagasan melalui diskusi akademik dan focus group discussion (FGD).

Sebagai akademisi dengan kepakaran di bidang manajemen keuangan syariah dan ekonomi syariah, Dr. Pungky Lela Saputri turut membawa perspektif mengenai kemaslahatan, keadilan sosial-ekonomi, dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya. Perspektif tersebut melengkapi keahlian Prof. Abdurrahman Mas’ud dalam bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam (ISKI), sehingga penelitian ini dapat menghubungkan nilai-nilai keagamaan, kearifan budaya lokal, dan keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat.

Partisipasi Dr. Pungky Lela Saputri dalam penelitian internasional ini menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi akademisi UNISSULA dalam pengembangan ilmu pengetahuan terkait sustainability melalui kolaborasi lintas disiplin, lintas budaya, dan lintas negara.

Diskusi bersama Muslim Chaplain University of Auckland, New Zealand, mengenai integrasi nilai-nilai Islam dalam pelestarian lingkungan melalui perspektif ekoteologi Islam, termasuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah dalam menjaga alam dan mewujudkan keberlanjutan lingkungan.

Diskusi bersama Papatoetoe Intermediate School (Enviro School), New Zealand, mengenai pemanfaatan nilai ekonomi dari kegiatan yang dikelola siswa, seperti pemeliharaan ayam, budidaya tanaman organik, dan pengelolaan madu lebah, sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan dan keberlanjutan.

Penyambutan oleh komunitas Māori di Kaitaki Village, Selandia Baru, sekaligus pembelajaran mengenai nilai-nilai keberlanjutan yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam pandangan Māori, hubungan manusia dengan alam tercermin dalam filosofi Ranginui (Sky Father) dan Papatūānuku (Earth Mother), yang melambangkan langit sebagai Bapak dan bumi sebagai Ibu, sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari jejaring kehidupan yang saling terhubung. Sebagaimana ungkapan yang disampaikan, “If the Earth dies, then we die”—jika bumi rusak, keberlangsungan hidup manusia pun terancam.

Leave a Reply